Kerajaan Gowa, Makassar

Menurut mitologi, sebelum kedatangan Tomanurung di tempat yang kemudian menjadi bagian dari wilayah kerajaan Gowa, sudah terbentuk sembilan pemerintahan otonom yang disebut Bate Selapang atau Kasuwiyang Salapang (gabungan/federasi). Sembilan pemerintahan otonom tersebut adalah Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Serro. Pada awalnya, kesembilan pemerintahan otonom ini hidup berdampingan dengan damai, namun, lama kelamaan, muncul perselisihan karena adanya kecenderugnan untuk menunjukkan keperkasaan dan semangat ekspansi. Untuk mengatasi perselisihan ini, kesembilan pemerintahan otonom ini kemudian sepakat memilih seorang pemimpin di antara mereka yang diberi gelar Paccallaya. Ternyata rivalitas tidak berakhir dengan kesepakan ini, karena masing-masing wilayah berambisi menjadi ketua Bate Selapang. Di samping itu, Paccallaya ternyata juga tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Hingga suatu ketika, tersiar kabar bahwa di suatu
tempat yang bernama Taka Bassia di Bukit Tamalate, hadir seorang putri yang memancarkan cahaya dan memakai dokoh yang indah.
Mendengar ada seorang putri di Taka Basia, Paccallaya dan Bate Salapang mendatangi tempat itu, duduk tafakkur mengelilingi cahaya tersebut. Lama-kelamaan, cahaya tersebut menjelma menjadi wanita cantik, yang tidak diketahui nama dan asal-usulnya. Oleh karena itu, mereka menyebutnya Tomanurung. Lalu, Paccallaya bersama Kasuwiyang Salapang berkata pada Tomanurung tersebut, “kami semua datang kemari untuk mengangkat engkau menjadi raja kami, sudilah engkau menetap di negeri kami dan sombaku lah yang merajai kami”. Setelah permohonan mereka dikabulkan, Paccallaya bangkit dan berseru, “Sombai Karaeng Nu To Gowa (sembahlah rajamu wahai orang-orang Gowa).
Tidak lama kemudian, datanglah dua orang pemuda yang bernama Karaeng Bayo dan Lakipadada, masing-masing membawa sebilah kelewang. Paccallaya dan kasuwiyang kemudian mengutarakan maksud mereka, agar Karaeng Bayo dan Tomanurung dapat dinikahkan agar keturunan mereka bisa melanjutkan pemerintahan kerajaan Gowa. Kemudain semua pihak di situ membuat suatu ikrar yang intinya mengatur hak, wewenang dan kewajiban orang yang memerintah dan diperintah. Ketentuan tersebut berlaku hingga Tomanurung dan Karaeng Bayo menghilang, ketika anak tunggal mereka Tumassalangga Baraya lahir. Anak tunggal inlah yang selanjutnya mewarisi kerajaan Gowa.

Kerajaan Gowa mencapai puncak keemasannya pada abad XVI yang lebih populer dengan sebutan kerajaan kembar “Gowa-Tallo” atau disebut pula zusterstaten (kerajaan bersaudara). Kerajaan Dwi-Tunggal ini terbentuk pada masa pemerintahan Raja Gowa IX, Karaeng Tumaparissi Klonna (1510-1545), dan ini sangat sulit dipisahkan karena kedua kerajaan telah menyatakan ikrar bersama, yang terkenal dalam pribahasa “Rua Karaeng Na Se’re Ata” (“Dua Raja tetapai satu rakyat”). Oleh karena itu, kesatuan dua kerajaan itu disebut Kerajaan Makassar.

Masa kejayaan Kerajaan Gowa tidak terlepas dari peran yang dimainkan oleh Karaeng Patingalloang, Mangkubumi Kerajaan yang berkuasa 1639-1654. Nama lengkapnya adalah I Mangadicinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud, putra Raja Tallo VII, Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Matowaya. Sewaktu Raja Tallo I Mappaijo Daeng Manyuru diangkat menjadi raja Tallo, usianya baru satu tahun. Karaeng Pattingalloang diangkat untuk menjalankan kekuasaannya sampai I Mappoijo cukup usia. Oleh karena itu dalam beberapa catatan disebutkan bahwa Karaeng Pattingalloang adalah Raja Tallo IX.
Karaeng Pattingalloang diangkat menjadi sebagai Mengkubumi Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1639-1654, mendampingi Sultan Malikussaid, yang memerintah pada tahun 1639-1653. Karaeng Pattingalloang, dilantik menjadi Tumabbicara Butta Kerajaan pada hari Sabtu, tanggal 18 Juni 1639. Jabatan itu didapatkannya setelah ia menggantikan ayahnya Karaeng Matowaya. Pada saat ini menjabat Mangkubumi, Karajaan Makassar telah menjadi sebuah kerajaan terkenal dan banyak mengundang perhatian negeri-negeri lainnya.
Karaeng Pattingalloang adalah putra Gowa yang kepandaiannya atau kecakapannya melebihi orang-orang Bugis Makassar pada umumnya. Dalam usia 18 tahun ia telah menguasai banyak bahasa, di antaranya bahasa Latin, Yunani, Itali, Perancis, Belanda, Arab, dan beberapa bahasa lainnya. Selain itu juga memperdalam ilmu falak. Pemerintah Belanda melalui wakilwakilnya di Batavia di tahun 1652 menghadiahkan sebuah bola dunia (globe) yang khusus dibuat di negeri Belanda, yang diperkirakan harganya f 12.000. Beliau meninggal pada tanggal 17 September 1654 di Kampung Bontobiraeng. Sebelum meninggalnya ia telah mempersiapkan 500 buah kapal yang masing-masing dapat memuat 50 awak untuk menyerang Ambon. Karaeng Pattingolloang adalah juga seorang pengusaha internasional, beliau bersama dengan Sultan Malikussaid berkongsi dengan pengusaha besar Pedero La Matta, Konsultan dagang Spanyol di Bandar Somba Opu, serta dengan seorang pelaut ulung Portugis yang bernama Fransisco Viera dengan Figheiro, untuk berdagang di dalam negeri. Karaeng Pattingalloang berhasil mengembangkan/meningkatkan perekonomian dan perdagangan Kerajaan Gowa. Di kota Raya Somba Opu, banyak diperdagangkan kain sutra, keramik Cina, kain katun India, kayu Cendana Timor, rempah-rempah Maluku, dan Intan Berlian Borneo.
Pada pedagang-pedagang Eropa yang datang ke Makassar biasanya membawa buah tangan yang diberikan kepada para pembesar dan bangsawan-bangsawan di Kerajaan Gowa. Buah tangan itu kerap kali juga disesuaikan dengan pesan yang dititipkan ketika mereka kembali ke tempat asalnya. Karaeng Pattingalloang ketika diminta buah tangan apa yang diinginkannya, jawabnya adalah buku. Oleh karena itu tidak mengherankan jika Karaeng Pattingalloang memiliki banyak koleksi buku dari berbagai bahasa.
Karaeng Pattingalloang adalah sosok cendikiawan yang dimiliki oleh Kerajaan Makassar ketika itu. Karena itu pedulinya terhadap ilmu pengetahuan, sehingga seorang penyair berkebangsaan Belanda yang bersama Joost van den Vondel, sangat memuji kecendikiawannya dan membahasakannya dalam sebuah syair sebagai berikut:
“Wiens aldoor snuffelende brein Een gansche werelt valt te klein”
Yang artinya sebagai berikut:
“Orang yang pikirannya selalu dan terus menerus mencari sehingga seluruh dunia rasanya terlalu sempit baginya”.
Karaeng Patingalloang tampil sebagai seorang cendekiawan dan negarawan di masa lalu. Sebelum beliau meninggal dunia, beliau pernah berpesan untuk generasi yang ditinggalkan antara lain sebagai berikut:
Ada lima penyebab runtuhnya suatu kerajaan besar, yaitu:
1. Punna taenamo naero nipakainga’ Karaeng Mangguka,
2. Punna taenamo tumanggngaseng ri lalang Pa’rasangnga,
3. Punna taenamo gau lompo ri lalang Pa’rasanganga,
4. Punna angngallengasemmi soso’ Pabbicaraya, dan
5. Punna taenamo nakamaseyangi atanna Mangguka.
Yang artinya sebagai berikut :
1. Apabila raja yang memerintah tidak mau lagi dinasehati atau diperingati,
2. Apabila tidak ada lagi kaum cerdik cendikia di dalam negeri,
3. Apabila sudah terlampau banyak kasus-kasus di dalam negeri,
4. Apabila sudah banyak hakim dan pejabat kerajaan suka makan sogok, dan
5. Apabila raja yang memerintah tidak lagi menyayangi rakyatnya.
Beliau wafat ketika ikut dalam barisan Sultan Hasanuddin melawan Belanda. Setelah wafatnya, ia kemudian mendapat sebutan “Tumenanga ri Bonto Biraeng”.
Dari sudut pandang terminologi, belum ada kesempatan (konsensus) arti kata Gowa yang menjelaskan secara utuh asal-usul kata serapan Gowa. Arti yang ada hanyalah asumsi dan perkiraan antara lain: pertama, kata Gowa berasal dari “goari”, yang berarti kamar atau bilik/perhimpun; kedua, berasal dari kata “gua”, yang berarti liang yang berkait dengan tempat kemunculan awal Tomanurung ri Gowa (Raja Gowa I) di gua/perbukitan Taka Bassia, Tamalate (dalam bahasa Makassar artinya tidak layu) yang kemudian secara politik kata Gowa dipakai untuk mengintegrasikan kesembilan kasuwiang (Bate Salapang) yang bersifat federasi di bawah paccallaya, yang kemudian menjadi kekuasaan tunggal Tomanurung, sehingga leburlah Bate Salapang menjadi Kerajaan “Gowa” yang diperkirakan berdiri pada abad XIII (1320).
Sampai masa kekuasaan Raja Gowa VIII I Pakere’ Tau Tunnijallo ri Passukki, pemerintahan kerajaan dipusatkan di Taka Bassia (Tamalate) sebagai istana Raja Gowa I. Kemudian istana raja ini dipindahkan ke Somba Opu oleh Raja Gowa IX Daeng Mantare Karaeng Mengunungi yang bergelar Tumapa’risi Kallonna karena dianggap lebih menguntungkan dan strategis sebagai kerajaan yang maju di bidang ekonomi dan politik. Pada masa inilah Kerajaan Gowa mulai memperluas kekuasaannya dan menaklukkan berbagai daerah sekitarnya termasuk menjalin hubungan kerjasama dan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan lain. Hal ini berlangsung sampai Raja Gowa XII, I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bonto Langkasa (1565-1590). Ambisi itulah yang menjadikan Kerajaan Gowa-Tallo menjadi kerajaan besar. Bandar yang dimilikinya menjadi bandar persinggahan niaga dunia yang sangat maju karena telah memiliki berbagai fasilitas sebagaimana layaknya negara-negara besar lain di abad XVI dan XVII. Pada waktu itu pemerintah menjalankan sistem politik terbuka berdasarkan teori Mare Leberum (laut bebas) yang memberi jamina usaha para pedagang asing. Akan tetapi, ambisi itu pula yang menciptakan persaingan yang bersifat terselubung (laten) ketika ingin memegang hegomoni dan zuserenitas di Sulewasi, terutama persaingannya dengan Kerajaan Bone. Ketika persaingan itu memuncak, Belanda memanfaatkan situasi tersebut dengan melancarkan politik devide et impera (pecah belah dan kuasai) serta menerapkan sistem monopoli yang sangat bertentangan dengan prinsip mare liberum hingga meletusnya perang Makassar (1666-1669).
Di sisi lain, agama Islam salah satu alasan perlawanan Bone ketika Gowa berusaha mengintroduksi agama Islam. Usaha itu diprakarsai oleh Raja Gowa XV I Mangerangi Daeng Manrabbia Karaeng Lakiung bergelar Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna (1593-1639) yang menjadi muslim pada tanggal 9 Jumadil 1051 H atau 20 September 1605. Beliau berusaha mewujudkan penyatuan Sulawesi tetapi tidak terealisir sampai masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653-1669) yang berakhir dengan Pernjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667 setelah Perang Makassar.
Tunipalangga

Tunipalangga dikenang karena sejumlah pencapaiannya, seperti yang disebutkan dalam Kronik (Cerita para pendahulu) Gowa, diantaranya adalah:

  1. Menaklukkan dan menjadikan bawahan Bajeng, Lengkese, Polombangkeng, Lamuru, Soppeng, berbagai negara kecil di belakang Maros, Wajo, Suppa, Sawitto, Alitta, Duri, Panaikang, Bulukumba dan negara-negara lain di selatan, dan wilayah pegunungan di selatan.
  2. Orang pertama kali yang membawa orang-orang Sawitto, Suppa dan Bacukiki ke Gowa
  3. Menciptakan jabatan Tumakkajananngang.
  4. Menciptakan jabatan Tumailalang untuk menangani administrasi internal kerajaan, sehingga Syahbandar leluasa mengurus perdagangan dengan pihak luar.
  5. Menetapkan sistem resmi ukuran berat dan pengukuran
  6. Pertama kali memasang meriam yang diletakkan di benteng-benteng besar.
  7. Pemerintah pertama ketika orang Makassar mulai membuat peluru, mencampur emas dengan logam lain, dan membuat batu bata.
  8. Pertama kali membuat dinding batu bata mengelilingi pemukiman Gowa dan Sombaopu.
    Penguasa pertama yang didatangi oleh orang asing (Melayu) di bawah Anakhoda Bonang untuk meminta tempat tinggal di Makassar.
  9. Yang pertama membuat perisai besar menjadi kecil, memendekkan gagang tombak (batakang), dan membuat peluru Palembang.
    Penguasa pertama yang meminta tenaga lebih banyak dari rakyatnya.
    Penyusun siasat perang yang cerdas, seorang pekerja keras, seorang narasumber, kaya dan sangat berani.
Raja-raja Kesultanan Gowa

1. Tumanurunga (+ 1300)
2. Tumassalangga Baraya
3. Puang Loe Lembang
4. I Tuniatabanri
5. Karampang ri Gowa
6. Tunatangka Lopi (+ 1400)
7. Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna
8. Pakere Tau Tunijallo ri Passukki
9. Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna (awal abad ke-16)
10 .I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565)
11. I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte
12. I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565-1590).
13. I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu (1593).
14. I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tuminanga ri Gaukanna  Berkuasa mulai tahun 1593 – wafat tanggal 15 Juni 1639. Merupakan penguasa Gowa pertama yang memeluk agama Islam.
15. I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna Lahir 11 Desember 1605, berkuasa mulai tahun 1639 hingga wafatnya 6 November 1653
16. I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla’pangkana Lahir tanggal 12 Juni 1631, berkuasa mulai tahun 1653 sampai 1669, dan wafat pada 12 Juni 1670
17. I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah Tuminanga ri Allu’ Lahir 31 Maret 1656, berkuasa mulai tahun 1669 hingga 1674, dan wafat 7 Mei 1681.  I Mallawakkang Daeng Mattinri Karaeng Kanjilo Tuminanga ri Passiringanna

18. Sultan Mohammad Ali (Karaeng Bisei) Tumenanga ri Jakattara Lahir 29 November 1654, berkuasa mulai 1674 sampai 1677, dan wafat 15 Agustus 1681
19. I Mappadulu Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tuminanga ri Lakiyung  (1677-1709)
20. La Pareppa Tosappe Wali Sultan Ismail Tuminanga ri Somba Opu (1709-1711)
21. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi
22. I Manrabbia Sultan Najamuddin
23. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi. (Menjabat untuk kedua kalinya pada tahun 1735)
24. I Mallawagau Sultan Abdul Chair (1735-1742)
25. I Mappibabasa Sultan Abdul Kudus (1742-1753)
26. Amas Madina Batara Gowa (diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka) (1747-1795)
27. I Mallisujawa Daeng Riboko Arungmampu Tuminanga ri Tompobalang (1767-1769)
28. I Temmassongeng Karaeng Katanka Sultan Zainuddin Tuminanga ri Mattanging (1770-1778)
29. I Manawari Karaeng Bontolangkasa (1778-1810)
30. I Mappatunru / I Mangijarang Karaeng Lembang Parang Tuminang ri Katangka (1816-1825)
31. La Oddanriu Karaeng Katangka Tuminanga ri Suangga (1825-1826)
32. I Kumala Karaeng Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Moh Aidid Tuminanga ri Kakuasanna (1826 – wafat 30 Januari 1893)
33. I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Idris Tuminanga ri Kalabbiranna (1893- wafat 18 Mei 1895)
34. I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Husain Tuminang ri Bundu’na
Memerintah sejak tanggal 18 Mei 1895, dimahkotai di Makassar pada tanggal 5 Desember 1895. Ia melakukan perlawanan terhadap Hindia Belanda pada tanggal 19 Oktober 1905 dan diberhentikan dengan paksa oleh Hindia Belanda pada 13 April 1906. Ia meninggal akibat jatuh di Bundukma, dekat Enrekang pada tanggal 25 Desember 1906.
35. I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur Muhibuddin Tuminanga ri         Sungguminasa (1936-1946)
36. Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin (1956-1960) merupakan Raja Gowa terakhir, meninggal di Jongaya pada tahun 1978.
Advertisements

Ritual Mencuci Benda Pusaka Kerajaan Gowa

Siang itu pukul 13.00 wita, ratusan lelaki dan perempuan dalam balutan busana adat bergegas menuju Balla Lompoa, istana kerajaan Gowa zaman dulu.

Para lelakinya mengenakan jas tutup lengkap dengan songkok guru (peci khas makassar). Sementara perempuannya memakai baju bodo, simboleng (konde khas Makassar) dan kingking lipa sabbe (cara pemakaian sarung sutra ala Makassar).

Rupanya mereka khusus berpakaian lengkap guna mengikuti Accera Kalompoang sebuah ritual penyucian benda-benda pusaka kerajaan Gowa yang dilaksanakan sekali setahun bersamaan dengan perayaan Idul Adha dimulai.

Setelah menaiki 12 anak tangga, para tamu yang sebagian besar berasal dari keluarga kerajaan Gowa berkumpul di ruang utama yang sebelumnya telah dihiasi semarak lamming (perhiasan untuk pelaminan). Dengan khidmat mereka bersila membagi dua sap saling berhadapan antara laki-laki dan perempuan. Kepulan asap dan aroma dupa yang menyengat memenuhi ruangan, menambah kesakralan suasana.

Di ruang utama juga terdapat panggung dengan posisi tepat di ujung ruangan yang diletakkan di tengah. Diisi sembilan orang Bate Salapang (dewan adat Kerajaan Gowa) duduk melingkar dan seorang keturunan langsung Raja Gowa ke 35 Andi Idjo Karaeng Lalolang yakni Andi Syamsuddin Andi Idjo Patta Sessu.

Tak lama berselang, irama gandrang sinrili dan tunrung pabballe berupa tabuhan gendang dan terompet, sahut-menyahut memainkan irama dinamis, mengiringi langkah gemulai gadis-gadis pembawa tombak (poke) yang disebut panyanggayya. Mereka muncul dari bilik penyimpanan benda pusaka (ga’dong).

Satu-satu benda kerajaan diarak menuju panggung. Dimulai dengan salokoa (mahkota) yang terbuat dari emas murni seberat 1786 gram dan bertahta 250 berlian. Pusaka ini diyakini ada sejak Raja Gowa pertama Tumanurung Bainea yang memerintah antara tahun 1300-1345 masehi.

Selain iu terdapat benda-benda pusaka kerajaan lain yang sebagaian besar terbuat dari emas murni seperti empat ponto janga-jangaya berbentuk seperti naga melingkar dengan berat 985,5 gram, empat kolara (kalung kebesaran) seberat 2.182 gram, empat kancing gaukang (kancing emas) dengan berat 277 gram, tobo kaluku (rante manila) dengan berat 270 gram yang merupakan hadiah dari kerajaan Sulu di Philipina pada abad XVI.

Tidak ketinggalan benda tajam seperti lasippo berbentuk parang dari besi tua, sudanga berbentuk kalewang yang merupakan senjata sakti atribut raja, berang manurung (parang panjang) dan mata tombak tiga jenis.

Tiga langkah dari panggung, para pembawa pusaka itu berjalan jongkok hingga ke bibir panggung dan menyerahkan langsung kepada Andi Syamsuddin. Setibanya di tangan Andi Syamsuddin, benda-benda tersebut langsung dicuci (allangiri) menggunakan air yang diambil dari bungung lompoa, sumur tua di sekitar makam Sultan Hasanuddin.

Setelah dicuci, secara berganti sembilan orang bate salapang annyossoro dengan jeruk nipis dan minyak kalompoang. Tidak berhenti sampai disitu, pelaksana hajatan yang tahun ini dipegang keluarga Andi Abdullah Bau Massepe dankeluarga Andi Darussalam Tabbusala juga maju ke depan panggung. Mereka mencelup darah hewan kurban untuk disentuhkan kepada benda-benda pusaka itu. “Prosesi tersebut dinamakan annitili,”ungkap pemandu acara pembacakan jalannya prosesi dengan jelas

Pencucian berakhir. Benda-benda telah dimasukkan kembali ke dalam bilik. Dengan serta-merta suasana berubah ramai di bibir panggung. Para keluarga kerajaan yang hadir serempak berebut air sisa yang terdapat dalam baskom berbahan kuningan. Mereka percaya air tersebut mampu mendatangkan berkah dan kebaikan.

Setelah air diperoleh, air tersebut lalu disapukan ke seluruh bagian tubuh. Jika ia disapukan ke wajah, maka akan tampak awet muda. Jika anak kecil, akan menyehatkan dan membantu tumbuh kembang anak. “Makanya saya sapukan ke wajah,biar awet muda terus,”ungkap Nadira salah satu keluarga dari Andi Bau Massepe.

Dalam pelaksanaan tahun ini, juga dihadiri wakil kesatuan pecinta senjata nusantara selangor. “Kami ingin menyaksikan warisan budaya dan menggalakkan agar generasi muda mencintai adat budaya seperti ini,”ujar Ab Majid Bujang. Selain dari Malaysia, juga dihadiri perwakilan dari Taiwan. (***)

Pecel (Indonesian Traditional Food)

Pecel is typical Indonesian food made ​​from vegetable stew of spinach , bean sprouts , long beans , basil , leaves turi, Krai (a type of cucumber) or other vegetables are served with sauce doused pecel. The concept is similar to pecel dish salad for Europeans, ie fresh vegetables doused mayonnaise topping. Just to pecel pecel sauce topping. The main ingredient of chilli pecel is peanuts and cayenne pepper mixed with other ingredients such as lime leaves, garlic, tamarind, pepper and salt. Pecel often served with peanut brittle peanuts, peanut brittle plates of shrimp or rice. Also pecel also usually served with warm white rice plus chicken or jerohan. How can the presentation of the plate or in a folded leaf, called Pincuk. This dish is similar to the gado-gado , although there are differences in the materials used. Pecel spicy flavor that characterizes the sting of this cuisine.

Pecel names have different meanings in the Slawi , Tegal , Central Java . Pecel not presented in the form of vegetables, but the form of salad. Pecel version Slawi area consists of fresh fruits such as guava, pineapple, papaya, and mango and doused with brown sugar sauce thickens.

Lala Suwages

Lala Suwages: A songstress with attitude

Triwik Kurniasari, The Jakarta Post, Jakarta | Sun, 03/13/2011 8:36 PM | People

The 30-year-old songstress has started to gain recognition in the Indonesian music scene thanks to her unique voice and funky look.

“Hey, curly!” These were familiar words for Lala Suwages since she was the only curly-haired student at school. Upset, little Lala would ask her mother to take her to a beauty salon to have her hair straightened.

Now, as she is grown up, she has begun to love and be proud of her curly locks, which have become her trademark since she stepped into the Indonesian music scene.

Born in the Papua capital Jayapura on Nov. 15, 1980 and growing up in Jakarta, Lala was fascinated by song since she was a kid, actively singing in church and pegged to sing at every extended family event.

Her father, who also likes singing, and her mother, who used to be a professional Papuan dancer and choreographer, support Lala.
“Papa knew I had a talent so he encouraged me to regularly practice singing and participate in singing contests or events,” Lala said.

lala suwages 2: Courtesy of Lala SuwagesCourtesy of Lala Suwages

“I’m not a good dancer, though. I’m a bit stiff when it comes to dancing. Even though my songs are mostly upbeat, I feel like I’m an electricity tower when I dance.”

Growing up listening to songs from Stevie Wonder, Lionel Ritchie, Cool & the Gang, Earth Wind & Fire and Whitney Houston, who later became her biggest musical influence, she still did not have much confidence to make singing her profession.

Young Lala was more interested in playing the role of detective, lawyer or any profession which dealt with politics since she liked to spend her spare time reading detective books instead of love stories.

“I thought I was not good enough in terms of singing quality,” she said, adding that she started to realize her talent in high school.

At university, she started taking offers to sing in cafes and later launched her professional career when she joined a group called Tabitha’s Friends.

She later had the chance to represent Indonesia in the international singing contest, Voice of Asia, which took place in Kazakhstan in 2003 and in which she earned the Major of Almaty prize.

While preparing to take part in the event she met her future husband, musician Bobby Sandhora, who once arranged songs for Lala.

Since that moment, the singer has been flooded with offers to perform at a number of musical events, including the international Java Jazz Festival (JJF) and JakJazz.

In 2007 JJF and Lala collaborated with a Dutch band called Daughter of Soul and performed with the Krakatau jazz band in a segment titled “A Journey to Krakatau”.

Her soulful voice and performances have brought her once-in-a-lifetime opportunities, like when she was given an album offer by Singapore-based record company Life Records.

The album, called Devoted to You and released in 2007, consisted of recycled love songs from the 1960s which she describes as simple, soulful and relaxing.

The success of Devoted to You was followed with a audiophile record, I Love You This Much, two years later.

While the clinking of piano dominates Devoted to You, the latter uses the strumming of acoustic guitar.

During those years Lala split her time between Singapore and Indonesia to record and promote her albums.

A record company once offered to produce her debut solo album, but Lala turned down the chance because she already had a deal with Catz Records.

2009 was an important year for Lala as she finally realized her biggest dream of making a solo album.

Her debut pop album, titled Langkah Baruku (My New Step) also includes two recycled song Semua Jadi Satu (All Become One), created by veterans Deddy Dhukun and Dian Pramana Poetra, and Nada Kasih (Love Tone), which was popularized by Fariz Roestam Munaf and Neno Warisman.

For Nada Kasih, Lala collaborated with Joeniar Arief (former member of Tofu), giving the song a fresher tone with R&B and jazzy nuances.

“It took quite a long time to finish this album because there was an adaptation process for the label to find out my uniqueness and selling points,” Lala explained.

When the album finally hit the market, she was relieved.

“When you are a singer and you have your own album, it means you already have an identity. The album proves my existence in the music industry.”

This year, Lala is gearing up for her second album.

“It’s still pop but the concept is way different from the first one. The second one is more vintage and oldies. It will be a unique piece,” she explains.

Just like her first record, she has penned many songs for her second album. The tracks still center on love with more serious and weightier lyrics.

“The lyrics are deeper than ever. The love thing that I talk about in this album is not only the love that you feel when you are in love, but also a more serious kind of love like the love towards your spouse,” said the singer, who also wrote songs based on her friends’ personal love experiences.

Her husband Bobby and renowned musician Tohpati also took part in her second album, which is planned for release at the middle or end of this year.

Lala’s unique voice and urban style certainly distinguishes her from other homegrown female songstresses.

“Since the beginning of my career I have wanted to have a different color, bring out different talent and introduce broader perspectives about the essence of beauty to the public.

“So far, people may be familiar with the beauties from the west or central parts of Indonesia, while I represent the character of women from Eastern Indonesia more. We’ve got our own style,” said the singer, who shared the stage with jazz mogul Bubi Chen at the recent Java Jazz Festival.

That’s one of the reasons why she sticks to her curly hair.

“I once tried to straighten my hair because I wanted to look stylish. It was in the early 2000s. My hair was really straight but I soon learned that having straight long hair was impractical in terms of treatment,” she said.

“The problem is I’m not the kind of feminine woman who likes to go to beauty salons. I like practical things. I can’t stand sitting hours in a salon to do a hair mask or anything. I give up!”

Lala then decided to go back to her natural curls.

“Besides, my husband used to say, ‘I love you just the way you are’. So, I keep my curly hair now. It’s good to be yourself.”

Lala also contributed her career success to her husband, as they worked hand in hand on a number of projects, including creating Lala’s two albums.

Working with her spouse, who she married in 2005, is not always as easy and smooth as she imagined.

“But the good thing about having a musician husband is he understands me,” said Lala, who became a mother in December of 2009.

Paving her way in the music world step by step, she always feels grateful.

“I do believe that the step-by-step process is more meaningful than an instant one since it allows us more time to better prepare,” she said.“I try to give it my best and maintain my existence in music.”

Prambanan Temple

Prambanan Hindu Temple Beautiful in the World

Prambanan is a stunningly beautiful building built in the 10th century during the reign of two kings, and Rakai Rakai Pikatan Balitung. Rose as high as 47 meters (5 meters higher than Borobudur temple ), the foundation of this temple has fulfilled the desire to show Hindu triumph in the land of Java. This temple is located 17 kilometers from the city center, in the middle of an area that now functions as beautiful park.

There is a legend that Javanese people always tell about this temple. Once, a man named Bandung Bondowoso loved Roro Jonggrang. Because of his love, Jonggrang asked Bondowoso make 1000 temples with statues in one night.The request was nearly fulfilled Jonggrang asked the villagers to pound rice and make a big fire that created an atmosphere like the morning. Bondowoso who only completed 999 statues cursed Jonggrang be a statue of the 1000 because he felt cheated.

Prambanan temple has three main temples in the primary yard, namely Vishnu, Brahma, and Shiva. The three temples are a symbol of Trimurti in Hindu belief.All of them face east. Each main temple has accompanying temple facing to the west, namely Nandini for Shiva, Swan to Brahma, and Garuda for Vishnu. In addition, there are 2 temples wedge, 4 color temples and 4 corner temples. In the second there are 224 temples.

Entering the Shiva temple located in the middle and the highest building, you will find a room 4. One main room contains a statue of Shiva, while the other 3 rooms each containing a statue of Durga (Shiva’s wife), Agastya (Shiva’s teacher), and Ganesha (Shiva’s son). Durga is touted as the statue of Roro Jonggrang described in the legend above.

In the Vishnu temple is located in the north of Shiva temple, you will only see one room containing a statue of Vishnu. Brahma temple is located south of Shiva temple, you will only find one room with a statue of Brahma.

Quite attractive accompanying temple is Garuda temple that is located near the Vishnu temple. This temple keeps a story of half-bird human being named Garuda. Garuda is a mystical bird in Hindu mythology, who was gold, white face, red wings, beak and wings like eagles. It is estimated, the figure is Hindu adaptation of a figure Bennu (means ‘rises’ or ‘shining’, usually associated with the god Re) in ancient Egyptian mythology or Phoenix in Old Greek mythology.Garuda succeeded in saving his mother from the curse of Aruna (Garuda is born handicapped brother) by stealing Tirta Amrita (holy water of the gods).

The ability to save that which was admired by many people until now and used for various purposes. Indonesia used it to sign the country. That said, the creator of the emblem of Garuda Pancasila find inspiration in this temple. Other countries also use it to sign the country is Thailand, with the same reason but the adaptation of different shape and appearance. In Thailand, Garuda is known as Krut or Pha Krut .

Prambanan also has panels of relief describing the story of Ramayana.According to experts, the relief is similar to the Ramayana story is revealed through oral traditions. Another interesting relief is Kalpataru tree that the Hindu religion is considered as a tree of life, sustainability and environmental compatibility. In Prambanan, relief of Kalpataru tree is described middle flanking a lion. The existence of this tree makes experts consider that the people of the 9th century had wisdom to manage its environment.

Just as the figure of Garuda, Kalpataru is now also used for various purposes. In Indonesia, Kalpataru became a symbol of Forum for Environment (WALHI). In fact, some scientists in Bali to develop the concept of Tri Hita Karana for environment conservation by seeing Kalpataru relief in this temple. The tree of life can also be found on the mountains that used to open the puppet arts. A proof that the relief panels in Prambanan has worldwide.

If careful, you can also see various birds relief, this time a real bird. Bird reliefs at Prambanan so natural that biologists can identify their genus . One was relief of the Yellow-crested Cockatoo ( Cacatua sulphurea ) that invite questions. Why, the bird was actually found only in Masakambing Island, an island in the Java Sea. Then, whether the type that were once numerous in Yogyakarta? The answer please find out for yourself. Because, until now no one who can solve the mystery.

Well, there are many more which can be extracted at Prambanan. You certainly should not be bored. If it is finally exhausted, you can relax in the beautiful garden. Interested? Come soon. Since September 18, 2006, you can enter zone 1 Prambanan though does not get into the temple. The damage caused by the earthquake on 27 May 2006 is being repaired.

Borobudur Temple (Candi Borobudur)

Borobudur Temple


History records Borobudur is the largest temple ever built for the veneration of the Buddha.Just imagine the building reaches a height of 14.000m with up to 35.29 sq. m. An inscription Cri Kahuluan derived from IX century (824 AD) who researched by Prof. Dr. JG Casparis, Wangsa uncover genealogical three successive dynasty that ruled in those days, the King Indra, the son Samaratungga. Later, his daughter called Samaratungga Pramodawardhani.At the beginning of this Samaratungga King built a temple named: Bhumisan-Bharabudhara, presumably meaning the barrow, hill or building levels which is identified with the designation kamulan Bhumisambharabudhara monasteries, which have a meaning an ancestral temple and the dynasty dynasty in the hills.

The location of this temple is located in the hills above the village of Borobudur, Mungkid, Magelang or 42 km north of the city of Yogyakarta.Surrounded Hill Manoreh stretching from east to west. While on the east side there is Mount Merapi and Merbau, and to the west there is Gunumg Sindoro and Mountain Cleft.

It takes no less than 2 million stone blocks andesite or equal to 50.000m Borobudur temple square to build this. Overall weight of the temple to reach 3.5 million tons. Like most buildings of the temple, Bororbudur has 3 parts of the building, namely the legs, body and top. Foot building called Kamadhatu, which tells the story of consciousness filled with lust and animalistic traits.Then Ruphadatu, which means a level of human consciousness are still bound by lust, materials and shapes. While no longer bound Aruphadatu passions, materials and shapes depicted in the form of an empty main stupa. This can only be achieved with the desire and emptiness.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.