Ritual Mencuci Benda Pusaka Kerajaan Gowa

Siang itu pukul 13.00 wita, ratusan lelaki dan perempuan dalam balutan busana adat bergegas menuju Balla Lompoa, istana kerajaan Gowa zaman dulu.

Para lelakinya mengenakan jas tutup lengkap dengan songkok guru (peci khas makassar). Sementara perempuannya memakai baju bodo, simboleng (konde khas Makassar) dan kingking lipa sabbe (cara pemakaian sarung sutra ala Makassar).

Rupanya mereka khusus berpakaian lengkap guna mengikuti Accera Kalompoang sebuah ritual penyucian benda-benda pusaka kerajaan Gowa yang dilaksanakan sekali setahun bersamaan dengan perayaan Idul Adha dimulai.

Setelah menaiki 12 anak tangga, para tamu yang sebagian besar berasal dari keluarga kerajaan Gowa berkumpul di ruang utama yang sebelumnya telah dihiasi semarak lamming (perhiasan untuk pelaminan). Dengan khidmat mereka bersila membagi dua sap saling berhadapan antara laki-laki dan perempuan. Kepulan asap dan aroma dupa yang menyengat memenuhi ruangan, menambah kesakralan suasana.

Di ruang utama juga terdapat panggung dengan posisi tepat di ujung ruangan yang diletakkan di tengah. Diisi sembilan orang Bate Salapang (dewan adat Kerajaan Gowa) duduk melingkar dan seorang keturunan langsung Raja Gowa ke 35 Andi Idjo Karaeng Lalolang yakni Andi Syamsuddin Andi Idjo Patta Sessu.

Tak lama berselang, irama gandrang sinrili dan tunrung pabballe berupa tabuhan gendang dan terompet, sahut-menyahut memainkan irama dinamis, mengiringi langkah gemulai gadis-gadis pembawa tombak (poke) yang disebut panyanggayya. Mereka muncul dari bilik penyimpanan benda pusaka (ga’dong).

Satu-satu benda kerajaan diarak menuju panggung. Dimulai dengan salokoa (mahkota) yang terbuat dari emas murni seberat 1786 gram dan bertahta 250 berlian. Pusaka ini diyakini ada sejak Raja Gowa pertama Tumanurung Bainea yang memerintah antara tahun 1300-1345 masehi.

Selain iu terdapat benda-benda pusaka kerajaan lain yang sebagaian besar terbuat dari emas murni seperti empat ponto janga-jangaya berbentuk seperti naga melingkar dengan berat 985,5 gram, empat kolara (kalung kebesaran) seberat 2.182 gram, empat kancing gaukang (kancing emas) dengan berat 277 gram, tobo kaluku (rante manila) dengan berat 270 gram yang merupakan hadiah dari kerajaan Sulu di Philipina pada abad XVI.

Tidak ketinggalan benda tajam seperti lasippo berbentuk parang dari besi tua, sudanga berbentuk kalewang yang merupakan senjata sakti atribut raja, berang manurung (parang panjang) dan mata tombak tiga jenis.

Tiga langkah dari panggung, para pembawa pusaka itu berjalan jongkok hingga ke bibir panggung dan menyerahkan langsung kepada Andi Syamsuddin. Setibanya di tangan Andi Syamsuddin, benda-benda tersebut langsung dicuci (allangiri) menggunakan air yang diambil dari bungung lompoa, sumur tua di sekitar makam Sultan Hasanuddin.

Setelah dicuci, secara berganti sembilan orang bate salapang annyossoro dengan jeruk nipis dan minyak kalompoang. Tidak berhenti sampai disitu, pelaksana hajatan yang tahun ini dipegang keluarga Andi Abdullah Bau Massepe dankeluarga Andi Darussalam Tabbusala juga maju ke depan panggung. Mereka mencelup darah hewan kurban untuk disentuhkan kepada benda-benda pusaka itu. “Prosesi tersebut dinamakan annitili,”ungkap pemandu acara pembacakan jalannya prosesi dengan jelas

Pencucian berakhir. Benda-benda telah dimasukkan kembali ke dalam bilik. Dengan serta-merta suasana berubah ramai di bibir panggung. Para keluarga kerajaan yang hadir serempak berebut air sisa yang terdapat dalam baskom berbahan kuningan. Mereka percaya air tersebut mampu mendatangkan berkah dan kebaikan.

Setelah air diperoleh, air tersebut lalu disapukan ke seluruh bagian tubuh. Jika ia disapukan ke wajah, maka akan tampak awet muda. Jika anak kecil, akan menyehatkan dan membantu tumbuh kembang anak. “Makanya saya sapukan ke wajah,biar awet muda terus,”ungkap Nadira salah satu keluarga dari Andi Bau Massepe.

Dalam pelaksanaan tahun ini, juga dihadiri wakil kesatuan pecinta senjata nusantara selangor. “Kami ingin menyaksikan warisan budaya dan menggalakkan agar generasi muda mencintai adat budaya seperti ini,”ujar Ab Majid Bujang. Selain dari Malaysia, juga dihadiri perwakilan dari Taiwan. (***)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: